Semua orang tentunya memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda bahkan ada yang memiliki tingkat kecerdasan atau IQ tinggi sejak lahir. Namun, ada juga yang cerdas dengan diasah terus-menerus dengan pembelajaran sehari-hari. Dengan memanfaatkan kesempatan waktu yang ada dapat menentukan bagaimana seseorang itu dapat bertumbuh dan berkembang.
Seperti halnya dengan Presiden RI ke-3, banyak gelar yang disematkan kepadanya tatkala ia hidup. Pria yang terkenal dengan kecerdasan serta prestasinya yang gemilang siapa lagi jikalau bukan bapak B.J. Habibie. Sosok tangguh yang sangat mencintai dunia keilmuan yang sudah ia tekuni sejak lama.

Semasa hidupnya, BJ Habibie di antaranya identik dengan julukan Bapak Teknologi. Alumnus Universitas Teknologi Rhein Westfalen Aachen, Jerman itu memang dikenal sebagai salah satu anak bangsa dengan pencapaian luar biasa di bidang tersebut.
Berbagai sumbangsih yang besar telah ia berikan pada teknologi pesawat terbang dunia lewat karya dan penemuannya, salah satunya crack progression theory, alias teori Habibie.
Karena teori itu, yang menjadi kontribusi besar darinya di dunia penerbangan, BJ Habibie mendapat julukan Mr Crack.
Teori tersebut dipakai untuk memprediksi crack propagation point, atau letak awal retakan pada pesawat, terutama sayap, yang merupakan struktur penyangga, sehingga selalu menahan tekanan, apalagi saat take off (lepas landas), landing (mendarat), dan mengalami turbulensi.
BJ Habibie menghasilkan temuan itu saat berusia 32 tahun. Dengan kejeniusannya, pria kelahiran 25 Juni 1936 itu berhasil membuat perhitungan yang sangat detail, sampai ke tingkat atom.
Teladan Habibie mengajarkan kita untuk terus belajar dan belajar, sepak terjangnya yang tak pernah usang menjadi salah satu momenyum yang harus selalu diingat dan diteladani.
Selamat jalan Pak B.J. Habibie. Semoga keteladananmu bisa membuat Indonesia terus berkarya dan menumbuhkan Habibie-Habibie yang baru.